Warga Kalipasir, Saksi dan Pelaku Perubahan Zaman
Siapakah warga Kalipasir yang sesungguhnya? Dalam asumsi banyak orang Kalipasir didiami oleh orang Betawi. Setelah menelisik lebih jauh, orang Betawi hanya sebagian warga yang mendiami Kalipasir sampai saat ini. Kalau disangkutkan dengan konsep native, rasanya orang Betawi tidak dapat serta-merta sebagai native, sebagai orang asli. Ketika berbicara dengan warga secara acak saja, terungkap bahwa banyak warga yang mengaku sebagai warga ‘asli’ Kalipasir, karena sejak kakek-nenek dan orang tua sudah berdiam di kampung yang dekat dengan wilayah elite Menteng. Warga Kalipasir ternyata banyak yang merupakan keturunan dari berbagai etnis yang kemudian beranak-pinak di kampung kota Kalipasir.
Sebagai contoh, keluarga Koosman (warga RW01) konon berasal dari Jepara yang kemudian pindah ke Jakarta dan menetap di Kalipasir hingga saat ini kemudian kawin-mawin dengan etnis lain di Indonesia seperti Bugis, Aceh, Cianjur, dan Ambon. Kakeknya dulu bertugas sebagai guru di Sekolah Dasar Menteng. Wawancara lain memperlihatkan Ada juga yang mengaku ‘asli’ Betawi, dengan gaya bahasa yang memang ‘Betawi’ saat diwawancara. Sebagai informasi, seorang pakar bahasa dan budaya Betawi, Chaer berpendapat bahwa bahasa ini merupakan bahasa Melayu Pasar yang bercampur dengan bahasa asing, seperti Belanda, Arab, Persia, Hokkien yang juga bercampur dengan bahasa dari etnis Sunda, Jawa, dan Bali. Percampuran bahasa ini merupakan imbas para imigran dan pekerja multietnis yang didatangkan dari berbagai tempat ke Batavia oleh VOC pada abad ke-16 hingga abad ke-18, serta perdagangan dan pertukaran yang terjadi sejak ratusan tahun di bandar besar Sunda Kelapa.
Jika dikaitkan dengan apa yang dikatakan sejarawan R.Z. Leirissa, diketahui bahwa orang-orang Betawi didatangkan oleh VOC untuk menjadi pekerja. Adanya fakta bahwa seorang Ibu yang dipanggil Bu Mamah, yang merupakan keturunan Arab (dari kakek buyut) yang tinggal di Kalipasir, menunjukkan bahwa daerah Kalipasir ini merupakan wilayah yang multietnis. Catatan sejarah dari pertengahan abad 18-19 menunjukkan bahwa orang-orang Arab dari Hadramaut beremigrasi ke wilayah pesisir Jawa dan Batavia akibat dibukanya Terusan Suez pada 1867. Mereka datang untuk berdagang dan kemudian memiliki tanah Partikelir di sejumlah wilayah tersebut.
Dari paparan di atas dapat dikatakan bahwa asal-usul etnis Betawi ini muncul akibat dari percampuran beberapa etnis yang kemudian membentuk suatu budaya baru. Interaksi sosial yang terjadi antar-etnis dalam kurun waktu yang lama di Batavia (Jakarta) kemudian membentuk suatu kultur baru yaitu Betawi. Istilah Betawi sendiri merupakan lafal penduduk pribumi yang sulit untuk menyebut kata Batavia (Shahab, 2004). Oleh karena itu, etnis Betawi ini dapat didefinisikan sebagai masyarakat multietnis yang datang dari berbagai macam wilayah Nusantara yang telah mendiami dan menetap di Jakarta dalam kurun waktu lama.
Kalipasir memiliki penduduk dari berbagai etnis. Ada etnis Betawi yang masih bertahan di kampung kota meskipun harus berdesak-desakan dan membagi tanah warisan hingga hanya mendapat tanah yang sempit. Ketika berbicara tentang asal-usul, Ibu Yani (75) dan Ibu Ida (65), dengan lantang gaya orang Betawi bicara, memastikan bahwa keluarga mereka sudah tujuh turunan menghuni kampung Kalipasir. Hal itu berarti, buyut Ibu Yani dan Ibu Ida yang pertama tinggal di Kalipasir, pinggir Kali Ciliwung.,Kedua kakak beradik ini tinggal di rumah warisan keluarga kakak-beradik dengan anak-anak dan cucu-cucu mereka.
Selain etnis Betawi, ada berbagai etnis yang saling bercampur; ada orang Jawa, Bugis, Aceh, Sunda, dan entah apalagi karena populasi Kalipasir terus berubah antara lain karena lokasinya yang berada di tengah kota urban yang penuh dinamika. Ada tiga kakak beradik Koosman yang mengaku bahwa orang tua mereka berasal dari Juwana, Jepara. Kakek dari ibunya pindah ke Jakarta karena mendapat tugas menjadi kepala sekolah di Jalan Sabang. Semua meninggal di Kalipasir. Dulu ketika Pak Yanto masih kecil, Kalipasir belum sepadat sekarang. Soal kebon binatang yang dulu menempati lahan Taman Ismail Marzuki menjadi pembahasan ketiga kakak beradik ini mengingat usia mereka yang sudah di atas 60 tahun sempat mengalami bermain-main di kebon binatang.
Pak Yanto, yang saat ini masih mengantar koran dan majalah. Meskipun tidak dengan lantang mengatakan keberatannya soal pendatang yang membawa isu agama ke kampung Kalipasir, ia sedikit mengangkat masalah agama yang mengganggu toleransi yang puluhan tahun mereka nikmati di Kalipasir. Menurut Pak Yanto, belakangan ini tidak banyak lagi acara kumpul-kumpul saat Lebaran atau Natal yang dulu pernah sangat mereka nikmati. Mereka saling mengunjungi saat hari raya masing-masing. Menurut pengamatannya, belakangan ada pihak dari agama tertentu yang mengubah suasana kampung. Lebih lanjut, Pak Yanto mengatakan bahwa sekarang yang ramai adalah ketika Maulid Nabi. Sejalan dengan hal ini, kesenian yang diangkat adalah semua yang mengusung warna tertentu.
Ketika dahulu mereka kenal dengan semua tetangga, sekarang ini tidak lagi demikian. Ia mencontohkan anaknya, Reihan (yang dipanggil Bang Ambon karena kulitnya agak gelap) yang sejak lahir hidup di kampung ini dan aktif di kegiatan RW) sudah tidak begitu kenal dengan banyak tetangga. Kalipasir semakin banyak didatangi pendatang dengan berbagai latar belakang untuk kepentingan menyewa rumah atau kost yang memang banyak ditawarkan di kampung ini. Banyak sekali rumah yang di depannya tertulis “Menerima Kost”.
Tentang identitas etnis, ia mengaku orang Jakarta karena memang sejak lahir tinggal di Kalipasir dan tidak pernah pergi dari sana. Akan tetapi, ia terlihat ragu untuk mengatakan ia orang Betawi. Sedikit berbeda dengan adik perempuannya, Ibu Lidya, yang dengan lebih ringan mengatakan ya saya orang Jakarta, orang Betawi mungkin karena memang seumur hidup tinggal di sini (Kalipasir). Hingga sekarang sudah memiliki cucu, ia tetap tinggal di kampung urban ini bersama anak dan cucunya di tanah warisan keluarga.
Sampai kapan mereka akan bertahan di tanah istimewa ini? Meskipun cliché, pertanyaan ini masih relevan dalam konteks urban yang semakin menjadi rumit dalam setiap aspek kehidupan warganya.
← Back to Discourse